Saudara Saudara yang Di cintai Rosullulah Saw. Yang
Menantikan Kencintaanya yang ingin bertemu dengan-Nya. Kali ini saya akan membahas informasi yang pernah
saya baca dari fansepage Facebook Sahabat Islam.
Bagaimana Dapat “MERASAKAN KENIKMATAN DAN KELEZATAN QIYAMUL-LAIL
(SHOLAT TAHAJUD)”.
Tahuakah kita dengan qiyamul-lail,
Allah akan memberi kekuatan. Dengan qiyamul-lail, Allah mengabulkan doa. Dengan
qiyamul-lail, dapat menghapus keburukan, mencegah dosa dan menangkal penyakit.
Dengan qiyamul-lail, dapat semakin mendekatkan kepada Allah.Dengan
qiyamul-lail, Allah akan menggolongkan dalam ibaadurrahman. Dengan
qiyamul-lail, Allah akan mengangkat ke tempat yang terpuji. Dengan
qiyamul-lail, Allah akan memasukkan ke surga-Nya.
Dari Jabir r.a., ia barkata,
“Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya
pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya
untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan
memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR. Muslim dan
Ahmad).
Qiyamul-lail adalah sarana
berkomunikasi seorang hamba dengan Rabbnya. Sang hamba merasa lezat di kala
munajat dengan Penciptanya. Ia berdoa, beristighfar, bertasbih, dan memuji Sang
Pencipta. Dan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sesuai dengan
janjinya, akan mencintai hamba yang mendekat kepadanya.
Kalau
Allah swt. mencintai seorang hamba, maka Ia akan mempermudah semua aspek
kehidupan hambaNya. Dan memberi berkah atas semua aktivitas sang hamba, baik
aktivitas di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, maupun
politik. Sang hamba akan dekat dengan Rabbnya, diampuni dosanya, dihormati oleh
sesama, dan menjadi penghuni surga yang disediakan untuknya.
Seorang muslim yang
kontinu mengerjakan qiyamullail, pasti dicintai dan dekat dengan Allah swt.
Karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan kepada kita, “Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang
shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak
penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR. Ahmad)
Jika kita ingin mendapat
kemuliaan di sisi Allah dan di mata manusia, amalkanlah qiyamul-lail secara
kontinu. Dari Sahal bin Sa’ad r.a., ia berkata, “Malaikat Jibril a.s. datang kepada Nabi saw. lalu berkata, ‘Wahai
Muhamad, hiduplah sebebas-bebasnya, akhirnya pun kamu akan mati. Berbuatlah
semaumu, pasti akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau, pasti kamu
akan berpisah. Kemuliaan orang mukmin dapat diraih dengan melakukan shalat
malam, dan harga dirinya dapat ditemukan dengan tidak minta tolong orang lain.’”
Orang yang shalat kala orang lain
lelap tertidur, diganjar dengan masuk surga. Kabar ini sampai kepada kita dari
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abdullah bin Salam dari Nabi
saw., beliau bersabda, “Wahai manusia,
sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalat malamlah pada waktu
orang-orang tidur, kalian akan masuk surga dengan selamat.”
Seorang tabi’in berkata, “Sungguh jika tiada sepertiga malam terakhir,
aku tidak betah hidup di dunia ini”. Mereka benar-benar mereguk kenikmatan
tiada tara saat berkhalwat dengan Tuhannya.
Namun mengapa kita belum bisa
merasakannya?
Berbagai
keutamaan qiyamul-lail sudah kita baca atau kita dengar dari para ulama. Kita
pun sudah beberapa kali mencoba melaksanakannya, dengan mujahadah (kesungguhan)
melawan kantuk dan dinginnya malam. Namun, berkali-kali juga kita mengalami
futur (lalai), tidak dapat lagi melaksanakan qiyamul-lail.
Pernahkah kita perihal mempahamkan keutamaan
Qiyamul-Lail sudah sama-sama mafhum. Jika Sudah ?..Mengapa demikian berat untuk
taf’il (melaksanakan) Qiyamul Lail tersebut?
Pendapat saya, sebabnya adalah karena kesadaran dari
niat kita yang sangat kurang. Sehingga pikiran bawah sadar kita masih merasakan
bahwa qiyamul-lail itu beban yang berat. Waktu sepertiga malam, saat dimana
bumi mengeluarkan gelombang kekhusyu’an (alfa), sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah
lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”
(Al-Muzammil 6). Seharusnya, saat-saat inilah dzikir dan bacaan Al-Quran kita
lebih berkesan, hati lebih mudah bergetar ketika Asma Allah disebut. Jiwa kita
lebih bening sebening embun pagi di dedaunan. Air mata lebih mudah meleleh
bahkan tertumpah dan tak kuasa kita hentikan. Hati menjadi halus dan lembut,
sehingga hijab kita dengan Allah semakin transparan. Pendeknya inilah surga
dunia yang telah dinikmati oleh para sahabat, tabi’in dan salafus saleh.
Maukah kita memperolehnya?
Mengapa kita belum bisa
menikmati Qiyamul Lail? Mungkin karena kita kurang “Mujahadah” (masih memaksakan
diri). Kita sulit qiyamul-lail dan hati
kita mati karena kita masih melakukan banyak maksiat dan dosa. Bukankah maksiat
dan dosa akan menimbulkan noktah hitam di hati hingga hati kita menjadi kasat
dan mati. Doa yang kita panjatkan tidak di istijabah oleh Allah SWT. Ya, betul
sekali, sangat tepat…! Tapi saya ingin berangkat dari perspektif lain.
Perspektif lain itu
adalah, kita tidak dapat menikmati qiyamul-lail, dan masih banyak melakukan
maksiat adalah karena “kita belum mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah
SWT”. Hati kita masih diisi oleh selain Allah, masih jauh dari Allah. Mari
pertama-tama kita niatkan dan azzamkan diri kita bahwa kita sangat ingin untuk
taqarrub mendekatkan diri kepada-Nya.
Dari Abu Hurairah RA
disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah bersabda, ‘Aku menuruti prasangka hamba-Ku kepada-Ku.
Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Kalau ia mengingat-Ku dalam hati, Aku
mengingatnya dalam diri-Ku. Kalau ia mengingat-Ku di tengah kerumunan orang,
Aku pun akan mengingatnya di tengah kerumunan yang lebih baik daripada mereka. Kalau ia mendekat diri kepada-Ku sejengkal, Aku pun
mendekatkan Diri kepadanya sehasta. Kalau ia mendekatkan diri pada-Ku sehasta.
Aku pun akan mendekatkan Diri padanya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku dengan
berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil”.
Waktu-waktu di keseharian kita, masih
sunyi dari dzikir kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang duduk dalam suatu tempat, lalu di situ ia tak berdzikir
kepada Allah, maka kelak ia akan mendapat kerugian dan penyesalan” (HR Abu
Dawud).
Dalam keseharian kita, di
ketika mandi, di perjalanan kantor, istirahat, hati dan pikiran kita tidak
dzikir kepada Allah dan lantas diisi oleh selainnya. Bahkan! bangun tidur kita
lupa berdoa, masuk dan keluar kamar mandi lupa berdzikir, selesai makan lupa
memuji dan berterima kasih kepada-Nya. Astaghfirullah … beristighfarlah
berulang kali saudaraku. Rasakanlah penyesalan dan biarkan air matamu meleleh.
Mulai detik ini isilah
setiap relung hati dan celah pikiran dengan dzikir kepada Allah. Di setiap
waktu dalam 24 jam hidup kita isilah dengan dzikir. Jika kita melakukannya,
bahkan dalam tidur pun kita tetap bermimpi berdzikir dan bershalawat.
Banyak
dzikir-dzikir singkat, seperti dua kalimat yang paling berat di sisi Allah,
yaitu, “SubhanaLlahi wabihamdihi…
SubhanaLlahil-azhiem…”. Atau dengan beristighfar, “Astaghfirullah… astaghfirullah…”, bertasbih, “Subahanallahi… subhanallahi”.
Bahkan
cukup dengan menyebut asma Allah, “Allah… Allah… Allah ..Allah Lagi Yaa Allah.. Ya Allah”. Lakukanlah di manapun,
dan kapan pun, bahkan multitasking sambil melakukan pekerjaan-pekerjaan
sehari-hari. Jika ada waktu senggang, dzikir yang paling utama adalah Al-Quran.
Membaca Al-Quran, mentadabburinya, menghafalnya, mengulang hafalan atau bahkan
sekadar mendengarkan kaset murattal Al-Qur’an sambil kita mengendarai
kendaraan.
Dzikir ini akan mengikis
dosa dan kotoran jiwa, seperti mengikis karat hingga kemilau emas muncul
kembali. Dengan sendirinya, dzikir akan mencegah kita berbuat dosa dan maksiat
lagi. Ketika kita akan berbuat sesuatu yang dilarang Allah, hati yang telah
dipenuhi Asma Allah akan otomatis menolaknya.
Semakin lama kita Dzikir akan menghaluskan hati kita. Semakin
memudahkan kita menangis dalam berbagai kondisi. Semakin memahami hakikat dan
semakin ma’rifat kepada Allah. Suatu ketika ada sekelompok sahabat yang telah
mengalami kehausan karena kehabisan minuman dalam perjalanan safar
berhari-hari. Ketika mereka menemukan sebuah sumber air, segera mereka minum
dan membasahi muka sepuas-puasnya. Namun ada seorang sahabat yang justru ketika
ia akan mengambil air ia menangis sesenggukan. Sahabat lain pun bertanya, “Mengapa engkau menangis padahal Allah
memberikanmu minuman pada saat kehausan?”.
Sahabat
tersebut berkata, “Ketika aku membaca doa
“Allahumma bariklana fii maa razaqtana
waqina adzabannaar”, terbayang olehku penduduk neraka yang lebih haus
dariku namun diharamkan padanya meminum air sedikit pun.
Firman Allah: “Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga:
“Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah
kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang
kafir, (Al-A’raaf: 50).
Subhanallah
Bukan , sahabat tersebut mampu menangkap hakikat kalimat “waqina adzabannar” dalam doa mau makan dan minum, karena ia selalu
berdzikir mengingat Allah. Jika dalam setiap tarikan nafas kita selalu
berdzikir, dalam setiap langkah kita diikuti dengan dzikir, maka akan muncul
banyak keajaiban dalam hidup kita. Allah akan mengaruniai limpahan kenikmatan
yang menisbikan kenikmatan dunia. Barulah kita bisa memahami kisah dalam hadits
berikut :
Diriwayatkan bahwa Haritsah RA berkata kepada
Rasulullah SAW, “Pagi ini, saya menjadi
mukmin yang sebenarnya”. Beliau berkata kepadanya, “Seorang Mukmin yang benar itu memiliki hakikat. Lantas apa hakikat dari
keimananmu?” Ia menjawab, “Saya
jauhkan diriku dari dunia, hingga di mataku BATU dan PERMATA terlihat sama….”
Subhanallah…
batu dan permata terlihat sama. Espass dan Alphard terlihat sama!
Kita
lanjutkan haditsnya:
“…
Saya seakan-akan melihat singgasana
Tuhanku tampak nyata. Saya seakan-akan melihat penduduk surga bersenang-senang
di dalam surga dan penduduk neraka disiksa di dalam neraka.” Beliau SAW
berkata, “Hai Haritsah, kamu telah
mengetahuinya. Karena itu, istiqomahlah”. Inilah mungkin yang dalam tasawuf
disebut “Kasyaf”.
Bagaimana Saudaraku, marilah
kita hidupkan hati, lembutkan jiwa
dengan selalu berdzikir kepada Allah SWT. Barulah kita bisa menikmati indahnya
dan nikmatnya Qiyamul Lail. Berikutnya kita akan merasakan berbagai kenikmatan
spiritual dan ayat-ayat keajaiban Allah dalam hidup kita.
Mari
Saudaraku penuhi hidup kita dengan
dzikir, dan perhatikan apa yang akan terjadi.
Semoga
Allah memberikan kita petunjuk dan hidayah-Nya agar di setiap ilmu yang kita
miliki, dapat menggerakkan kita untuk lebih dekat lagi kepada Allah. Amin…..
Wasalam’mualaikum Wr.Wb
